PTK ( Penelitian Tindakan Kelas untuk RA/TK ) Bab I

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS SEDERHANA  MELALUI  MEDIA  “MAGNET DALAM SERIBU PANGGUNG BONEKA”  ANAK KELOMPOK A2 SEMESTER II    DI TK/RA KUSUMA PUTRA CANDI.

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.Latar belakang   

Taman   Kanak-kanak  (TK)  merupakan     salah    satu   bentuk    pendidikan yang   menyediakan   pendidikan  dini   bagi  anak  usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan  dasar. Usia  4-6  tahun  merupakan  masa  peka   bagi anak. Masa peka merupakan  masa  terjadinya  pematangan  fungsi-fungsi fisik   dan   psikis   yang siap   merespon   stimulasi  dari   lingkungan,   untuk   meletakkan  dasar   pertama dalam   mengembangkan   kemampuan   fisik,   kognitif,   bahasa, sosial-emosional, seni,   kemandirian   agar   pertumbuhan  dan  perkembangan anak tercapai. Oleh karena   itu,   agar   pencapaian   tujuan     tersebut   dapat  optimal maka perlu ada perencanaan    Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)   di  TK   yang     meliputi bagaimana   memilih  bahan/media, sumber  belajar dan metode/ teknik  kegiatan  yang  tepat, sehingga sehingga guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang  menarik dan bermakna.

Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda-benda di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini, yaitu: (1) berorientasi pasa kebutuhan anak; (2) belajar melalui bermain; (3) lingkungan yang kondusif; (4) menggunakan pembelajaran terpadu; (5) mengembangkan berbagai kecakapan hidup; (6) menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar; (7) dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang                                             ( Fakhrudin,2010:32).   Supaya proses belajar itu menyenangkan, guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga anak didik memperoleh pengalaman nyata. Model pembelajaran dengan jenis kegiatan bervariasi serta pendekatan belajar sambil bermain, bermain seraya belajar dapat menumbuhkan motivasi, percaya diri dan tanggung jawab anak didik untuk melakukan tugas yang diberikan guru secara mandiri. Usia dini merupakan  kesempatan  emas bagi anak untuk  belajar   atau yang sering disebut dengan masa golden age. Dinamakan masa golden age karena pada saat itu dimulainya pembentukan mental dan karakter semasa kecil atau pada usia 0-5 tahun sebelum masuk sekolah pada tingkat pertama di sekolah dasar (SD). Saat inilah terjadi  proses pembentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan potensi anak, yaitu perkembangan motorik (pembentukan keterampilan anak), mental dan panca indera, afeksi dan pengembangan daya pikir anak. Dalam usia emas itu yang dibutuhkan anak adalah stimulasi yang tepat dan menyenangkan untuk mengembangkan beragam kecerdasan atau multiple intelligence.

Pengembangan ini bertujuan agar anak mampu mengolah perolehan belajarnya, menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, mengembangkan kemampuan matematikanya, pengetahuan ruang dan waktu, kemampuan memilah dan mengelompokkan dan persiapan pengembangan kemampuan berpikir teliti. Disebutkan bahwa salah satu komponen Rencana Kegiatan Harian (RKH) adalah standar kompetensi. Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemam­puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran (Permendiknas Nomor 41 tahun 2007, pasal 1 ayat 1). Sudah menjadi tugas guru agar peserta didik memiliki dan menguasai kemampuan seperti tersebut di atas.

Secara spesifik pada Kurikulum 2010 untuk Pendidikan Anak Usia Dini    (PAUD) untuk Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal dinyatakan tujuan pendidikan anak usia dini pada Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal  adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Untuk mencapai tujuan tersebut ruang lingkup kurikulum dipadukan dalam dua bidang pengembangan yaitu bidang pengembangan pembentukan perilaku dan bidang pengembangan kemampuan dasar.

Bidang pengembangan kemampuan dasar merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas sesuai dengan tahap perkembangan anak, meliputi : berbahasa, kognitif, fisik / motorik dan seni. Kognitif sendiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk dapat mengolah perolehan belajarnya, sehingga dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu anak untuk mengembangkan kemampuan logika matematika dan kemampuan sains.

Kenyataan di lapangan menunjukkan dalam proses pembelajaran sains hanya mendengar ceramah dari guru saja atau membaca buku teks  yang dilanjutkan dengan pembahasan secara verbal hal ini mengakibatkan peserta didik tidak mempunyai kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep.

Pembelajaran  sains harus melibatkan aspek pengetahuan, afektif dan psikomotor sehingga pengetahuan untuk memahami konsep diperoleh melalui proses berpikir dengan memiliki ketrampilan proses dan sikap ilmiah. Pemahaman ini bermanfaat bagi anak untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat menanggapi secara kritis perkembangan sains.

Tujuan pengembangan pembelajaran sains untuk anak  adalah agar anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui metode sains proses, meningkatkan kemampuan sains pada anak ,  diharapkan anak memiliki sikap ilmiah dan diharapkan anak lebih berminat untuk menghayati sains.

Sains  dapat mengajak anak untuk berpikir kritis, karena dengan sains anak  tidak begitu saja menerima atau menolak sesuatu. Mereka mengamati, menganalisis dan mengevaluasi informasi yang ada sebelum menentukan keputusannya.  Dengan melalui percobaan-percobaan sains melalui ketrampilan proses, anak-anak dapat ditingkatkan kemampuan sainsnya. Dengan media observasi,  anak yang mempunyai kemampuan sains yang tinggi dapat menemukan dan mempertanyakan objek-objek yang dipahaminya. Anak usia 4-6 tahun dapat dilatih untuk mempunyai kemampuan sains . Anak dapat mulai diajarkan ketrampilan observasi dasar  seperti pengamatan.Lewat cara ini anak dapat diajak untuk memahami apa itu bunyi, udara, air, cahaya, suhu, tanah serta berbagai kayu dan logam.

Pengenalan sains untuk anak pra sekolah lebih ditekankan pada proses daripada konsep. Untuk anak prasekolah keterampilan proses sains hendaknya dilakukan secara sederhana sambil bermain. Kegiatan sains memungkinkan anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda tak hidup yang ada disekitarnya. Anak belajar menemukan gejala benda dan gejala peristiwa dari benda-benda tersebut.

Sains juga melatih anak menggunakan lima inderanya untuk mengenal berbagai gejala benda dan gejala peristiwa. Anak dilatih untuk melihat, meraba, membau, merasakan dan mendengar. Semakin banyak keterlibatan indera dalam belajar, anak semakin memahami apa yang dipelajari. Anak memperoleh pengetahuan baru hasil penginderaanya dengan berbagai benda yang ada di sekitarnya. Pengetahuan yang diperolehnya akan berguna sebagai modal berpikir lanjut. Melalui proses sains, anak dapat melakukan percobaan sederhana. Percobaan tersebut melatih anak menghubungkan sebab dan akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak berpikir logis.

Kesulitan yang dialami oleh penulis adalah bagaimana cara membelajarkan kepada anak agar mampu dan dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet dengan baik.  Dari hasil penilaian hanya terdapat 20% anak yang dapat menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet dengan baik. Ini berarti masih terdapat 80% anak yang mengalami kesulitan menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet dengan baik .

Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Republik Indonesia (RI) Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, seorang guru dituntut untuk memiliki 4 kompetensi. Salah satu di antaranya adalah kompetensi Pedagogik, yang meliputi: (1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, social, cultural, emosional, dan intelektual; (2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik; (3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu; (4) Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik; (5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik; (6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki; (7) Berkomunikasi secara efektif, empatik,dan santun dengan peserta didik; (8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar; (9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepen-tingan pembelajaran; (10) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Pada kompetensi pedagogik  yang ke empat disebutkan bahwa guru dituntut untuk menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik, di antaranya dengan memanfaatkan media dan sumber belajar yang sesuai dengan pendekatan bermain sambil belajar.

Berkaitan dengan  Permendiknas Nomor 16 tahun 2007  tersebut maka dalam kegiatan  belajar  mengajar perlu  menggunakan model pembelajaran yang sesuai. Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan diri,karena itu, kegiatan pembelajaran perlu: (1) berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreatifitas peserta didik; (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai,  etika, estetika, logika dan kinestetika; (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam. (Puskur 2004 dalam Majid, 2005).

Pada usia prasekolah anak-anak memperoleh stimulus dari benda-benda untuk belajar seperti main-mainan, perabotan rumah, tanaman, binatang, dan sebagainya (Nasution,2010:195). Supaya proses belajar itu menyenangkan, guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga anak didik memperoleh pengalaman nyata. Model pembelajaran dengan jenis kegiatan bervariasi serta pendekatan belajar sambil bermain, bermain seraya belajar dapat menumbuhkan motivasi, percaya diri dan tanggung jawab anak didik untuk melakukan tugas yang diberikan guru secara mandiri. Salah satu metode pembelajaran yang  dianggap  sesuai  yaitu melalui  permainan media “Magnet dalam Seribu Panggung Boneka”  agar dapat meningkatkan kemampuan sains sederhana anak.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian tentang UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS SEDERHANA  MELALUI  MEDIA  “MAGNET DALAM SERIBU PANGGUNG BONEKA”  ANAK KELOMPOK A2 SEMESTER II DI TK/RA KUSUMA PUTRA CANDI.

1.1.Rumusan Masalah

Permasalahan yang dapat dirumuskan adalah: Bagaimana media Magnet dalam Seribu Panggung Boneka dapat meningkatkan kemampuan sains sederhana anak kelompok A2 semester II di TK/RA. Kusuma Putra Candi?

 

1.2.Hipotesa Tindakan

                                  Hipotesa dalam penelitaian tindakan kelas ini sebagai berikut: Dengan diterapkannya media Magnet dalam Seribu Panggung Boneka maka kemampuan sains sederhana anak kelompok A2 semester II TK/RA. Kusuma Putra Candi meningkat.

 

1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Setelah kegiatan penelitian diharapkan:

  1. Tujuan

Tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berfikir anak khususnya dalam hal pengetahuan umum dan sains sederhana  kelompok A2  TK/RA Kusuma Putra Candi .

  1. Manfaat

1)                                     Bagi pendidik

  • Meningkatkan kreatifitas guru dalam menemukan model pembelajaran dapat meningkatkan kecerdasan anak.
  • Meningkatkan peranan guru dalam mendampingi anak didik melakukan kegiatan pembelajaran.
    • Sebagai sarana pengembangan dan peningkatan profesionalisme guru.

2)                                     Bagi pembaca

  • Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif penerapan model pembelajaran dengan media magnet dalam seribu panggung boneka  dalam meningkatkan  kemampuan sains sederhana anak.

3)             Bagi Kepala Sekolah

  • Sebagai literasi untuk mengembangkan kompetensi tenaga pendidik agar lebih profesional.
  • Sebagai tambahan wawasan agar bisa disampaikan /diinformasikan  pada guru

 

1.4.Ruang Lingkup Keterbatasan

 

Lingkup penelitian yang menjadi batasan materi dalam penelitian adalah bagaimana cara membelajarkan kepada anak agar anak mampu dan dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet dengan menggunakan media” Magnet dalam Seribu Panggung boneka” TK/RA. Kusuma Putra Kelompok A2 semester II tahun pelajaran 2012-2013.

Untuk Bab II silakan buka artikel PTK yang Bab II

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s