PTK (Penelitian Tindakan Kelas untuk RA?TK ) Bab II

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian
Kesulitan yang dialami oleh penulis adalah bagaimana cara membelajarkan kepada anak agar mampu dan dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet dengan baik. Dari hasil penilaian hanya terdapat 20% anak yang dapat menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet dengan baik. Ini berarti masih terdapat 80% anak yang mengalami kesulitan menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet dengan baik , untuk itu penulis melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan maksud untuk meningkatkan kemampuan sains sederhana melalui media magnet dalam seribu panggung boneka anak kelompok A2 TK/RA Kusuma Putra Candi.
1. Arti Kemampuan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdinas, 1991: 623) kemampuan berarti kesanggupan; kecakapan; kekuatan
2. Arti Sains
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas,1991:862) ditemukan bahwa definisi sains adalah (1) ilmu pengetahuan pada umumnya, (2) ilmu pengetahuan alam; pengetahuan sistematik tentang alam dan dunia fisik, termasuk di dalamnya zoologi, botani, fisika, kimia, geologi, dan sebagainya.

3. Devinisi Sederhana
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 1991: 888), definisi sederhana adalah (1) sedang ( dalam arti pertengahan, tidak tinggi, tidak rendah, dan sebagainya), (2) bersahaja; tidak berlebih-lebih, (3) tidak banyak seluk beluknya ( kesulitannya dan sebagainya ); tidak banyak pernik; lugas.
4. Media
Kata media dalam bahasa latin merupakan bentuk jamak dari kata Medium, secara harfiah berarti “Perantara” atau “Pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengantar. Terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima. Media merupakan salah satu komponen komunikasi yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunitan (Criticos 1996 dalam Daryanto, 2010).
Menurut Uno (2010:113), media dapat diartikan sebagai alat komunikasi yang digunakan untuk membawa suatu informasi dari suatu sumber kepada penerima. Dari beberapa uraian tentang definisi media dapat disimpulkan bahwa pengertian media dalm pembelajaran adalah segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber ke peserta didik yang bertujuan merangsang mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran.

5. Magnet
Sedangkan magnet menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 1991: 612 ), mempunyai beberapa arti, setiap bahan yang dapat ditarik logam besi.
Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan magnet http://menikmagnet.blogspot.com/ diakses tanggal 30 April 2013.
Menurut Iis Lestari, magnet adalah benda yang mempunyai medan magnet dan mempunyai gaya tolak menolak dan tarik menarik terhadap benda-benda tertentu http://www.kamusq.com/2012/08/magnet-dan-jenis-jenis-magnet.html diakses tanggal 30 April 2013.
Sedangkan menurut Rahmat (2009:5) dalam bukunya “Magnet dan Manfaatnya bagi Manusia”, magnet adalah suatu objek yang mempunyai suatu medan magnet.

6. Panggung
Panggung menurut kamus besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 1991: 724 ) berarti : (1) lantai ( terbuat dari papan, bambu, dan sebagainya ) yang diberi bertiang, (2) Bangunan yang agak tinggi, lantainya bertiang, (3) lantai yang agak tinggi tempat bermain sandiwara dan sebagainya; pentas, (4) tempat yang agak tinggi ( di stadion, gelanggang pacuan kuda, dan sebagainya ) untuk menonton; tribune.

7. Boneka
Boneka adalah merupakan sebagai sebarang benda objek yang digerak lakonkan oleh pemain sama ada secara sentuhan atau arahan yang bertujuan menyampaikan mesej. http://marlirohayughazali.blogspot.com/2013/03/aktiviti-dan-pengertian-boneka.html diakses tanggal 2 Mei 2013.
Sedangkan menurut Nyue_Nyue Ocieta, boneka adalah tiruan dari bentuk manusia dan bahkan sekarang termasuk tiruan dari bentuk binatang. http://molylovelyme.blogspot.com/2010/01/pengertian-boneka-adalah-tiruan-dari.html diakses tanggal 2 Mei 2013.
8. Media Magnet dalam Seribu Panggung Boneka
Magnet dalam Seribu Panggung Boneka merupakan media pembelajaran yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini. Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses belajar dan pembelajaran adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Karena memang gurulah yang menghendaki untuk memudahkan tugasnya dalam menyampaikan pesan – pesan atau materi pembelajaran kepada siswanya. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka materi pembelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh siswa, terutama materi pembelajaran yang rumit dan komplek. Setiap materi pembelajaran mempunyai tingkat kesukaran yang bervariasi. Pada satu sisi ada bahan pembelajaran yang tidak memerlukan media pembelajaran, tetapi dilain sisi ada bahan pembelajaran yang memerlukan media pembelajaran. Materi pembelajaran yang mempunyai tingkat kesukaran tinggi tentu sukar dipahami oleh siswa, apalagi oleh siswa yang kurang menyukai materi pembelajaran yang disampaikan.
Secara umum manfaat media pembelajaran menurut Harjanto,1997 dalam Anwar, 2009, diakses tanggal 7 Mei 2013 adalah : (1) Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistis ( tahu kata – katanya, tetapi tidak tahu maksudnya); (2) Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera; (3) Dengan menggunakan media pembelajaran yang tepat dan bervariasi dapat diatasi sikap pasif siswa; (4) Dapat menimbulkan persepsi yang sama terhadap suatu masalah.
Selanjutnya manfaat media menurut Purnamawati dan Eldarni, 2001 dalam Anwar,2009, dalam http://www.cantiknya-ilmu.co.cc/2011/01/ pengertian manfaat jenis-jenis-dan.html, diakses tanggal 10 Januari 2013 adalah: ( 1) Membuat konkrit konsep yang abstrak, misalnya untuk menjelaskan peredaran darah; (2) Membawa obyek yang berbahaya atau sukar didapat di dalam lingkungan belajar; (3) Menampilkan obyek yang terlalu besar, misalnya pasar, candi; (4) Menampilkan obyek yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang; (5) Memperlihatkan gerakan yang terlalu cepat; (6) Memungkinkan siswa dapat berinteraksi langsung dengan lingkungannya; (7) Membangkitkan motivasi belajar; (8)Memberi kesan perhatian individu untuk seluruh anggota kelompok belajar; (9) Menyajikan informasi belajar secara konsisten dan dapat diulang maupun disimpan menurut kebutuhan; (10) Menyajikan informasi belajar secara serempak (mengatasi waktu dan ruang); (11) Mengontrol arah maupun kecepatan belajar siswa.
2.2. Sekilas tentang magnet
Kata magnet (magnit) berasal dari bahasa Yunani magnítis líthos yang berarti batu Magnesian. Magnesia adalah nama sebuah wilayah di Yunani pada masa lalu yang kini bernama Manisa (sekarang berada di wilayah Turki) di mana terkandung batu magnet yang ditemukan sejak zaman dulu di wilayah tersebut. Pada saat ini, suatu magnet adalah suatu materi yang mempunyai suatu medan magnet. Materi tersebut bisa dalam berwujud magnet tetap atau magnet tidak tetap. Magnet yang sekarang ini ada hampir semuanya adalah magnet buatan.
Menurut Rahmat (2009:5) dalam bukunya “Magnet dan Manfaatnya bagi Manusia”, magnet adalah suatu objek yang mempunyai suatu medan magnet.
Magnet terdiri dari dua kutub, yaitu kutub utara (north/N) dan kutub selatan (south/S). Sedangkan jenis magnet sendiri terdiri dari magnet alam dan magnet buatan. Magnet alam adalah magnet yag sudah memiliki sifat magnet dari semula dan bukan hasil dari buatan manusia. Sedangkan magnet buatan adalah magnet yang merupakan hasil dari buatan manusia dari bahan besi atau baja, biasanya berbentuk silinder, batang, lingkaran, batang, ladam, jarum, dan lain sebagainya. Magnet buatan biasanya di perjual belikan secara bebas.
2.2.1. Cara membentuk magnet.
Secara umum ada dua cara membuat magnet buatan: (1) Dengan menggosok-gosokkan sepotong magnet dengan bahan (dari besi atau logam) yang akan dibuat magnet, dan (2) dengan arus listrik di sekitar bahan (dari besi atau logam) yang akan dibuat magnet.
Magnet adalah sebuah benda yang unik. Karena keunikan yang dimiliki oleh magnet inilah, penulis ingin membuat alat peraga yang mengunakan media magnet dengan harapan peserta didik dapat mengenal lebih jauh tentang magnet dengan cara yang menyenangkan.
2.2.2. Sifat Magnet
Semua magnet memperlihatkan ciri-ciri tertentu. Magnet memiliki dua tempat yang gaya magnetnya paling kuat. Daerah ini disebut kutub magnet. Ada 2 kutub magnet, yaitu kutub utara (U) dan kutub selatan (S). Seringkali kita menjumpai magnet yang bertuliskan N dan S. N merupakan kutub utara magnet itu (singkatan dari north yang berarti utara) sedangkan S kutub selatannya (singkatan dari south yang berarti selatan).
Magnet dapat berada dalam berbagai bentuk dan ukuran. Bentuk yang paling sederhana berupa batang lurus. Bentuk lain yang sering kita jumpai misalnya bentuk tapal kuda (ladam) dan jarum. Pada bentuk-bentuk ini, kutub magnetnya berada pada ujung-ujung magnet itu. Gambar C1 memperlihatkan berbagai bentuk magnet yang sering kita jumpai.

Gambar 2.1. Berbagai bentuk magnet.
Jika dua buah magnet saling didekatkan, magnet pertama akan mengerjakan gaya pada magnet kedua, dan magnet kedua mengerjakan gaya kepada magnet pertama. Gaya magnet, seperti halnya gaya listrik, berupa tarikan dan tolakan. Jika dua kutub utara didekatkan, maka keduanya tolak-menolak. Dua kutub selatan juga saling menolak. Namun, jika kutub selatan didekatkan pada kutub utara, maka kedua kutub ini akan tarik-menarik. Sehingga kita dapat membuat aturan untuk kutub magnet: kutub senama tolak-menolak, dan kutub tak senama tarik-menarik.

Gambar 2.2 Kutub magnet yang berbeda saling menarik

Gambar 2.3. Kutub magnet yang sejenis saling menolak
2.2.3. Bahan Magnetik dan Bahan Nonmagnetik
Benda dapat digolongkan berdasarkan sifatnya. Kemampuan suatu benda menarik benda lain yang berada di dekatnya disebut kemagnetan. Berdasarkan kemampuan benda menarik benda lain dibedakan menjadi dua, yaitu benda magnet dan benda bukan magnet. Namun, tidak semua benda yang berada di dekat magnet dapat ditarik. Oleh karena itu sifat kemagnetan benda dapat digolongkan menjadi:
a. Bahan magnetik (feromagnetik), yaitu bahan yang dapat ditarik magnet dengan kuat. Contoh: besi, baja, besi silikon, nikel, kobalt.
b. Bahan non magnetik
1) Paramagnetik, yaitu bahan yang ditarik lemah oleh magnet.
Contoh: alumunium, magnesium, wolfram, platina dan kayu
2) Diamagnetik, yaitu bahan yang ditolak oleh magnet.
Contoh: Bismuth, tembaga, emas, perak, seng, garam dapur.
Benda-benda magnetik yang bukan magnet dapat dijadikan magnet. Benda itu ada yang mudah dan ada yang sulit dijadikan magnet. Baja sulit untuk dibuat magnet, tetapi setelah menjadi magnet sifat kemagnetannya tidak mudah hilang. Oleh karena itu, baja digunakan untuk membuat magnet tetap (magnet permanen). Besi mudah untuk dibuat magnet, tetapi jika setelah menjadi magnet sifat kemagnetannya mudah hilang. Oleh karena itu, besi digunakan untuk membuat magnet sementara.
Berdasarkan jenis bahan yang digunakan, magnet dapat dibedakan menjadi empat tipe:
a. Magnet Permanen Campuran
Sifat magnet tipe ini adalah keras dan memiliki gaya tarik sangat kuat. Magnet permanen campuran dibagi menjadi:
a. Magnet alcomax, dibuat dari campuran besi dengan almunium
b. Magnet alnico, dibuat dari campuran besi dengan nikel
c. Magnet ticonal, dibuat dari campuran besi dengan kobalt
b. Magnet Permanen Keramik
Tipe magnet ini disebut juga dengan magnadur, terbuat dari serbuk ferit dan bersifat keras serta memiliki gaya tarik kuat.
c. Magnet Besi Lunak
Tipe magnet besi lunak disebut juga stalloy, terbuat dari 96% besi dan 4% silicon. Sifat kemagnetannya tidak keras dan sementara.
d. Magnet Pelindung
Tipe magnet ini disebut juga mumetal, terbuat dari 74% nikel, 20% besi, 5% tembaga, dan 1% mangan. Magnet ini tidak keras dan bersifat sementara.
Berdasarkan penggolongan magnet buatan diatas serta kemampuan bahan menyimpan sifat magnetnya, kita dapat menggolongkan bahan-bahan magnetic ke dalam magnet keras dan magnet lunak. Sebagai contoh bahan-bahan magnet keras ialah baja dan alcomax. Bahan ini sangat sulit untuk dijadikan magnet. Namun demikian, setelah bahan tersebut menjadi magnet, bahan-bahan magnet keras ini akan dapat menyimpan sifat magnetiknya relative sangat lama. Karena pertimbangan atau alasan itulah bahan-bahan magnet keras ini lebih banyak dipakai untuk membuat magnet tetap (permanen). Contoh pemakaiannya adalah pita kaset dan kompas. Bahan-bahan magnet lunak, misalnya besi dan mumetal, jauh lebih mudah untuk dijadikan magnet. Namun demikian, sifat kemagnetannya bersifat sementara atau mudah hilang. Itulah sebabnya, bahan-bahan magnet lunak ini banyak dipakai untuk membuat electromagnet (magnet listrik). (Budi Prasodjo, 2007: 242-243)
2.2.4. CARA MENGHILANGKAN SIFAT KEMAGNETAN
Sebuah magnet akan hilang sifat kemagnetannya jika:
1. Magnet dipanasakan hingga berpijar atau dibakar
Pemanasan pada magnet menyebabkan sifat kemagnetannya berkurang atau bahkan hilang. Hal ini terjadi karena tambahan energi akibat pemanasan menyebabkan partikel-partikel bahan bergerak lebih cepat dan lebih acak, maka sebagian magnet elementernya tidak lagi menunjuk arah yang sama seperti semula. Bahkan setiap benda di atas suhu tertentu sama sekali tidak dapat dibuat menjadi magnet.
2. Magnet dipukul atau ditempa hingga bentuknya berubah atau rusak
Magnet yang mengalami pemukulan akan menyebabkan perubahan susunan magnet elementernya. Akibat pemanasan dan pemukulan magnet elementer menjadi tidak teratur dan tidak searah. Magnet-magnet elementer yang tadinya segaris (searah) menjadi berarah sembarangan, sehingga benda kehilangan sifat magnetiknya.
3. Magnet diletakkan pada solenoida(kumparan kawat berbentuk tabung panjang dengan lilitan yang sangat rapat) dan dialiri arus listrik bolak-balik (AC).
Media Magnet dalam Seribu Panggung Boneka yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini berupa sebuah panggung boneka berbentuk kotak yang multi fungsi.
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang sangat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa (Hamalik,1986 dalam Susanto, 2011, http://www.cantiknya-ilmu.co.cc/2011/01/pengertian-manfaat-jenis-jenis-dan.html diakses tanggal 10 Januari 2013 ). Dengan menerapkan media magnet dalam seribu panggung boneka dimungkinkan kemampuan sains sederhana anak kelompok A2 akan meningkat serta mampu dan dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Berawal dari kesulitan yang dialami oleh guru di kelas, guru ingin mengadakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) guna memperbaiki pembelajaran. Jenis penelitian yang digunakan penulis termasuk dalam kategori penelitian kualitatif dan eksperimen, tanpa ada perhitungan statistik pada saat menganalisis data dan diawali dengan perencanaan, adanya perlakuan terhadap subyek penelitian, serta adanya evaluasi terhadap hasil yang dicapai sesudah adanya perlakuan. Hal ini sesuai dengan karakteristik yang dimiliki PTK, antara lain: (1) didasarkan pada masalah yang yang dihadapi guru dalam instruksional; (2) adanya kolaborasi dengan pelaksanaannya; (3) penelitian sekaligus sebagai praktisi yang melakuakn refleksi; (4) bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktisi instruksional; (5) dilaksanakan dalam rangkaian langkah dengan beberapa siklus; (6) yang diteliti adalah tindakan yang dilakukan, misalnya efektifitas metode, tehnik atau proses pembelajaran; (7) tindakan yang dilakukan adalah tindakan yang diberikan oleh guru kepada peserta didik (Sulipan,2005 dalam Trianto, 2011:25).
3.2. Model Penelitian
PTK yang dilakukan oleh penulis menggunakan model Stephen Kemmis dan Mc. Taggart (1998) yang diadopsi oleh Trianto (2011:30). Model Kemmis & Taagart merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin. Dalam perencanaannya, Kemmis menggunakan system spiral refleksi diri yang dimulai dengan rencana (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), refleksi (reflecting), dan perencanaan kembali yang merupakan dasar untuk suatu ancang-ancang pemecahan permasalahan. Peneliti menggunakan model ini karena dianggap paling praktis dan aktual.

3.3. Rancangan Penelitian
Di dalam penelitian tindakan kelas ada dua model yang bias digunakan untuk mendekati suatu permasalahan yang akan dipecahkan, yaitu model proses dan model system. Dalam penelitian yang dilakukan penulis, yang dirasa paling tepat untuk mengatasi permasalahan kurang mampunya anak dalam menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet pada anak Kelompok A TK/ RA Kusuma Putra Candi adalah model proses.
Berkaitan dengan penggunaan model proses tersebut, maka penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua siklus, siklus I, dan siklus II, masing-masing siklus menggunakan empat tahapan, yaitu: (1) menyusun rencana tindakan, (2) melaksanakan tindakan, (3) melakukan obsevasi, (4) membuat analisis yang dilanjutkan dengan melakukan refleksi. Yang melakukan kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini adalah guru yang sekaligus berperan sebagai peneliti dan dibantu oleh tiga orang pengamat yang bertugas mengamati proses pembelajaran dan memberi masukan bagi guru/peneliti untuk perbaikan tindakan berikutnya. Secara rinci masing-masing siklus dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Siklus I
a. Refleksi Awal
Berdasarkan hasil evaluasi anak kelompok A2, terdapat 70% anak masih mengalami kesuliatan dalam hal menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet, dengan menggunakan media magnet dalam seribu panggung diperkirakan kemampuan sains sederhana anak kelompok A akan meningkat serta mampu dan dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet. .
b. Perencanaan
Untuk melaksanakan tindakan di kelas dibutuhkan persiapan, dalam persiapan ini penulis merencanakan desain pembelajaran seperti menyusun Rencana Kegiatan Harian (RKH), media, bahan ajar, alat penilaian, dan instrument observasi selama pelaksanaan tindakan pada proses pembelajaran yang berupa format observasi, note field (catatan lapangan).
c. Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini sebagai pelaksananya adalah guru kelas. Pelaksanaan tindakan dilakukan selama dua kali pertemuan. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar media magnet dalam seribu panggung mampu meningkatkan kemampuan sains sederhana anak kelompok A2 serta dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet.

d. Observasi
Observasi dilakukan saat penulis melaksanakan pembelajaran di kelas. Dengan menggunakan format observasi observer mengamati penulis selama proses pembelajaran. Format observasi telah disusun berdasarkan kebutuhan, hal ini untuk mempermudah observer menginterprestasikan kejadian selama tindakan. Observer juga dibekali dengan catatan lapangan (note field), mungkin ditemukan kejadian-kejadian di luar rublik observasi. Tujuan observasi adalah: (1) untuk mengetahui seberapa besar kemampuan anak dalam menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet, (2) untuk mengetahui bagaimana reaksi anak saat diberikan percobaan dengan magnet, dan (3) untuk mengetahui seberapa jauh media magnet dalam seribu panggung boneka dapat merangsang minat anak mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam percobaan dengan magnet.
e. Refleksi
Hasil pengamatan dan hasil penelitian belajar siswa direfleksikan dan didiskusikan serta diinterprestasikan untuk mendapatkan perbaikan. Yang dikemukakan adalah seberapa hasil perubahan yang diperoleh dari penelitian. Kemudian hal-hal yang masih dianggap kurang akan direncanakan kembali untuk perbaikan pada proses pembelajaran yang akan datang.
2) Siklus II
a. Perencanaan
Hasil dari pengamatan pada siklus I digunakan untuk mendapatkan perbaikan pada siklus II. Penulis menyusun kembali Rencana Kegiatan Harian (RKH), media, bahan ajar, alat penilaian, dan instrument observasi selama pelaksanaan tindakan pada proses pembelajaran yang berupa format observasi, note field (catatan lapangan).
b. Tindakan
Dalam pelaksanaan tindakan kelas ini sebagai pelaksananya adalah guru kelas. Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan menggunakan system klasikal. Pelaksanaan tindakan dilakukan sebanyak satu kali pertemuan. Tujuannya untuk mengetahui seberapa besar media magnet dalam seribu panggung mampu meningkatkan kemampuan sains sederhana anak kelompok A serta dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet.
c. Observasi
Dengan menggunakan format observasi yang ke dua observer mengamati penulis selama proses pembelajaran. Format observasi telah disusun berdasarkan kebutuhan. Hal ini untuk mempermudah observer menginterprestasikan kejadian selama tindakan. Observer juga dibekali dengan catatan lapangan (note field), mungkin ditemukan kejadian-kejadian di luar rublik observasi. Tujuan observasi adalah: (1) untuk mengetahui seberapa besar kemampuan anak dalam menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet, (2) untuk mengetahui bagaimana reaksi anak saat diberikan percobaan dengan magnet, dan (3) untuk mengetahui seberapa jauh media magnet dalam seribu panggung boneka dapat merangsang minat anak mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam percobaan dengan magnet.
d. Refleksi
e. Pada bagian ini, dikemukakan hasil perubahan yang telah diperoleh anak, dan didiskusikan kembali dengan tim peneliti.

3.4. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah anak kelompok A2 TK/RA. Kusuma Putra Candi sejumlah 15 anak .

3.5. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Taman Kanak-Kanak / Roudhotul Athfal Kusuma Putra Candi Sidoarjo yang beralamat di perum Mentari Bumi Sejahtera Blok BK-30, desa Kalipecabean Candi Sidoarjo. Pemilihan sekolah ini dalam rangka: (1) Mengoptimalisasikan pelaksanaan pembelajaran di TK/RA Kusuma Putra Candi, (2) memperoleh umpan balik dari guru dalam pelaksanaan pembelajaran, khususnya bidang pengembangan kognitif, (3) memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran di TK/RA Kusuma Putra.

3.6. Penyiapan Partisipan
Agar penelitian dapat berjalan dengan lancar perlu mempersiapkan partisipan. Partisipan didalam penelitian ini adalah anak kelompok A2 TK/RA. Kusuma Putra Candi sejumlah 15 anak. Sedangkan tempat penelitian dipersiapkan di TK/RA. Kusuma Putra Candi.

3.7. Personalia Tim Peneliti
1) Ketua Tim Peneliti
a. Nama lengkap dan gelar : Rr. Dyah Pertiwi, S.Pd
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Jabatan : Guru Kelas
d. Unit Kerja : TK/RA. Kusuma Putra Candi
2) Anggota Tim Peneliti
a. Nama lengkap dan gelar : Nurul Hudayati, S.Pd
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Jabatan : Guru Kelas
d. Unit Kerja : TK/RA. Kusuma Putra Candi
3) Anggota Tim Peneliti
a. Nama lengkap dan gelar : Widyanawati Eka Winingsih
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Jabatan : Guru Pendamping
d. Unit Kerja : TK/RA. Kusuma Putra Candi
4) Anggota Tim Peneliti
a. Nama lengkap dan gelar : Betty Setyowanti
b. Jenis Kelamin : Perempuan
c. Jabatan : Guru Pendamping
d. Unit Kerja : RA. Kusuma Putra Candi.

3.8. Langkah dan Jadwal Kegiatan
NO Jenis Kegiatan BULAN
APRIL 2013 MEI 2013
1 2 3 4 1 2 3 4
1. Perencanaan dan Penyusunan Makalah X
2. Penyusunan Pedoman Pengamatan dan instrument yang diperlukan X X
3. Pelaksanaan Siklus I X
4. Pelaksanaan Siklus II X
5. Persiapan Penyusunan Laporan X
6. Menyerahkan Hasil Laporan X

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Per Siklus
Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran, peneliti memperoleh data prestasi peserta didik melalui penilaian individu yang dilaksanakan 2 siklus.
SIKLUS I
Pembelajaran pada siklus 1 berpedoman pada Rencana Kegiatan Harian ( RKH ) yang telah peneliti persiapkan penelitian tindakan kelas ini dilakukan pada hari Rabu, 1 Mei 2013 dan waktu yang disediakan 1x 60 menit yaitu mulai dari pukul 08.00 – 09.00 WIB.
Kegiatan awal pembelajaran siklus 1 :
Mempersiapkan langkah-langkah pembelajaran yang dirancang menggunakan alat peraga sederhana yaitu magnet, mengkondisikan siswa agar mengikuti proses pembelajaran seperti memberi salam dan menanyakan keadaan peserta didik, melakukan apersepsi.
Kegiatan inti pembelajaran siklus 1 :
Guru memperlihatkan contoh magnet dan cara menggunakan magnet dengan menggunakan media magnet dalam seribu panggung, beberapa siswa diminta untuk maju mencoba cara menggunakannya.
Kegiatan akhir pembelajaran siklus 1 :
Guru memberikan evaluasi berupa tanya jawab tentang benda-benda yang dapat ditarik dengan magnit serta benda-benda yang tidak dapat ditarik dengan magnit.
SIKLUS II
Untuk pembelajaran pada siklus 2, berpedoman pada RKH yang telah peneliti persiapkan, penelitian tindakan ini dilakukan pada hari Jum’at, 3 Mei 2013 dan waktu yang disediakan 1 x 60 menit yaitu mulai dari pukul 08.00 – 09.00 WIB.
Materi yang diambil pada pembelajaran siklus 2 adalah menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode demonstrasi, unjuk kerja, dan tanya jawab. Pada siklus 2 guru menggunakan pendekatan kontektual. Peserta didik di ajak secara langsung mencari benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet berdasarkan kartu gambar yang sudah disiapkan oleh guru.
Kegiatan awal siklus 2 :
Mempersiapkan langkah-langkah pembelajaran yang dirancang menggunakan media yaitu magnet dalam seribu panggung boneka dan contoh nyata benda sesuai dengan gambar benda yang ada pada kartu gambar. Kegiatan diawali dengan salam dan doa, menanyakan keadaan siswa, melakukan apresiasi. Tanya jawab untuk menggali persepsi siswa tentang magnet, memberi motivasi agar siswa aktif dalam proses pembelajaran.
Kegiatan inti siklus 2 :
Guru mengajak anak untuk melakukan percobaan dengan magnet dengan menggunakan media magnet dalam seribu panggung, di antaranya dengan cara :
1. Menggerakkan magnet dari bawah kaca
Ajak peserta didik untuk bermain peran dengan menggunakan boneka panggung yang ada. Gerakkan stik dari dasar panggung dengan cara mengarahkan stik yang sudah ditempeli magnet pada boneka yang ada.

Gb.4.1. Peserta didik menggerakkan magnet dari bawah panggung

2. Menyentuhkan magnet secara langsung dari belakang panggung.
Bila cara ini yang digunakan, lempengan ditempelkan tidak pada bagian dasar, tapi pada bagian belakang gambar atau boneka..

Gb.4.2. Peserta didik menggerakkan magnet dari belakang panggung

3. Menyentuhkan magnet dengan cara memancing dari atas panggung boneka yang sudah dilubangi .
Beri pengait pada bagian atas gambar atau tulisan yang ada agar peserta didik dapat memancing menggunakan magnet. Guru tinggal memberi petunjuk apa yang harus dilakukan peserta didik. Misalnya : mengambil buah dari plastik yang sudah diberi pengait, menggambil gambar ikan dan kupu , dan sebagainya.

Gb.4.3. Peserta didik menggerakkan magnet dari belakang panggung

4. Menyentuh dengan magnet benda-benda seperti yang tampak pada kartu gambar.

Gb.4.4. Peserta didik menggerakkan magnet dari belakang panggung
Kegiatan akhir siklus 2 :
Peserta didik bersama dengan guru menyimpulkan hasil kegiatan yang sudah dilakukan peserta didik.

4.2. Data Hasil Perbaikan
Data hasil perbaikan dan sebelum perbaikan (pra siklus), siklus 1 ke siklus 2 adalah sebagai berikut :
Tabel hasil evaluasi peserta didk

NO NAMA ANAK PENILAIAN
Pra Siklus Siklus I Siklus II
1. EQI 2 2 3
2. ANDZA 2 2 2
3. CLARA 2 3 3
4. TIAN 2 2 3
5. DINDA 2 3 4
6. ALFA 3 4 4
7. ADIT 2 3 3
8. BAGAS 3 3 4
9. ZAIDA 2 2 3
10. LARAS 2 3 3
11. FITRI 2 3 3
12. AKBAR 2 3 4
13. ICHA 2 2 4
14. ARIES 3 4 4
15. BHILQIS 2 2 3
% 20 % 60 % 95 %

Ket : 1 =
2 =
3 =
4 =

Grafik 4.1.
Grafik Hasil Penilaian Peserta Didik Berdasarkan Pra Siklus

Keterangan :
Pada pra siklus peserta didik yang mendapat nilai :
1 = 0
2 = 12 peserta didik
3 = 3 peserta didik
4 = 0
Jumlahnya adalah 15 peserta didik

Grafik 4.2.
Grafik Hasil Penilaian Peserta Didik Berdasarkan Siklus I

Pada siklus 1 peserta didik yang mendapat nilai :
1 = 0
2 = 6 peserta didik
3 = 7 peserta didik
4 = 2 peserta didik
Jumlahnya adalah 15 peserta didik

Grafik 4.3.
Grafik Hasil Penilaian Peserta Didik Berdasarkan Siklus II

Pada siklus 2 peserta didik yang mendapat nilai :
1 = 0
2 = 1 peserta didik
3 = 8 peserta didik
4 = 6 peserta didik
Jumlahnya adalah 15 peserta didik

4.3. Data Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan observer terhadap kemampuan guru dalam merencanakan perbaikan pembelajaran:
a. Guru dalam mengembangkan materi, media (alat peraga) dan sumber belajar pada siklus 1 belum terlihat, namun pada siklus 2 guru sudah terlihat mengembangkan itu semua.
b. Pada siklus I dan siklus II, guru merencanakan jenis kegiatan perbaikan pembelajaran sesuai RKH yang sudah disiapkan.
c. Penataan ruang dan fasilitas belajar masih kurang, disiklus 2 guru bisa memanajemen kelasnya sendiri.
Pada siklus I peserta didik belum semuanya berpartisipasi dalam perbaikan pembelajaran namun di siklus II guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok sehingga semua peserta didik berkesempatan untuk melakukan percobaan.

4.4. Data Hasil Refleksi
Data yang di temukan pada siklus I di kelompok A2 TK/RA Kusuma Putra peserta didik yang mendapat nilai dari 15 peserta didik sejumlah 6 peserta didik. Hal ini berarti baru 60% peserta didik yang memahami materi yang disampaikan oleh guru. Hal ini di sebabkan karena pada saat pembelajaran berlangsung tidak semua peserta didik terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Pada siklus II hasil evaluasi peserta didik mengalami peningkatan. Hampir semua peserta didik mendapatkan nilai di atas . Dari data yang berhasil dihimpun 1 ( satu )peserta didik mendapat . 8 ( delapan ) peserta didik mendapat , dan 6 ( enam) peserta didik mendapat

4.5. Pembahasan
Setelah melaksanakan kegiatan pembelajaran, peneliti memperoleh data nilai evaluasi peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dalam 2 siklus.
Kegiatan pembelajaran pada siklus 1 berpedoman pada RKH yang telah peneliti persiapkan. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan pada hari Rabu, 1 Mei 2013 dan waktu yang disediakan 1x 60 menit yaitu mulai dari pukul 08.00 – 09.00 WIB.
Materi yang diambil pada pembelajaran siklus 1 adalah menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet. Metode yang digunakan adalah metode demonstrasi, alat peraga atau media pembelajaran yang digunakan adalah media “ Magnet dalam seribu Panggung Boneka “. Aktifitas guru selama pembelajaran belum memuaskan, metode yang digunakan guru belum relevan. Hal ini desebabkan pada saat pembelajaran berlangsung guru tidak menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga peserta didik kurang perhatian dan akhirnya materi yang disampaikan tidak sepenuhnya dipahami oleh peserta didik. Nilai prosentase yang diperoleh pada siklus 1 masih rendah yaitu 60%, peserta didik belum memahami betul materi pembelajaran.
Untuk pembelajaran pada siklus 2, peneliti juga berpedoman pada RKH yang telah peneliti persiapkan, penelitian tindakan ini dilakukan pada hari Jum’at, 3 Mei 2013 dan waktu yang disediakan 1 x 60 menit yaitu mulai dari pukul 08.00 – 09.00 WIB.
Materi yang diambil pada pembelajaran siklus 2 adalah mengelompokkan benda yang dapat ditarik dan benda yang tidak dapat ditarik magnet , metode pembelajaran yang digunakan adalah metode pemberian tugas dan tanya jawab, pada siklus 2 guru menggunakan pendekatan kontektual melalui media yang sudah di siapkan guru di dalam kelas ataupun di luar kelas.
Aktifitas guru pada siklus 2 cukup baik sehingga hasil yang dicapai memuaskan. Ditandai dengan meningkatnya nilai evaluasi peserta didik. Hal ini disebabkan karena peserta didik sudah terlibat sepenuhnya dalam kegiatan pembelajaran.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari hasil perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakan dapatlah ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Media “ Magnet dalam Seribu Panggung Boneka” , terbukti sangat membantu guru dalam meningkatkan pemahaman peserta didik
Data yang di temukan pada siklus 1 terdapat 6 peserta didik yang mendapat nilai bintang 2 ini berarti siswa belum semuanya memahami materi yang disampaikan oleh guru.
Hal ini di sebabkan pada saat pembelajaran berlangsung belum mendapat kesempatan untuk menemukan sendiri benda-benda yang dapat ataupun tidak dapat ditarik oleh magnit.
Pada siklus 2 hasil penilaian peserta didik mengalami peningkatan, hampir semua peserta didik mendapat nilai di atas bintang 2.
Dalam pembelajaran pada siklus 2 guru menggunakan media kartu bergambar sebagai pelengkap media magnet dalam seribu panggung. Pada siklus yang ke 2 ini peserta didik berkesempatan untuk mencari sendiri benda-benda di sekitar sekolah yang dapat ditarik dengan magnit.
Penggunaan media pembelajaran “ Magnet dalam seribu panggung Boneka “ sangat menarik perhatian peserta didik untuk memperhatikan pembelajaran yang diberikan guru, dan dengan melibatkan peserta didik secara langsung dalam penggunaan media pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi yang diberikan oleh guru.

5.2. Saran
Sebagai tindak lanjut dari penelitian ini penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut :
Hendaknya setiap pengelola pendidikan khususnya para guru selalu berusaha untuk megembangkan lagi berbagai strategi atau pendekatan pembelajaran yang ada sehingga dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran.
Penggunaan media untuk menarik perhatian peserta didik dalam belajar. Pilihan benda konkrit sebagai media pembelajaran secara langsung dapat membantu meningkatkan pemahaman peserta didik.
Kepada Kepala Sekolah disarankan agar membuka ruang kepada guru untuk bebas berkreasi dalam melakukan kegiatan profesionalnya dan mengutamakan proses daripada hasil.
Kepada supervisor dalam hal ini pengawas TK/SD Kecamatan Candi agar selalu membuka wawasan dan mengubah pandangan guru untuk selalu menyajikan pembelajaran yang variatif dan bermakna serta efektif dalam meningkatkan hasil belajar.

PTK ( Penelitian Tindakan Kelas untuk RA/TK ) Bab I

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS SEDERHANA  MELALUI  MEDIA  “MAGNET DALAM SERIBU PANGGUNG BONEKA”  ANAK KELOMPOK A2 SEMESTER II    DI TK/RA KUSUMA PUTRA CANDI.

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.Latar belakang   

Taman   Kanak-kanak  (TK)  merupakan     salah    satu   bentuk    pendidikan yang   menyediakan   pendidikan  dini   bagi  anak  usia 4 tahun sampai memasuki pendidikan  dasar. Usia  4-6  tahun  merupakan  masa  peka   bagi anak. Masa peka merupakan  masa  terjadinya  pematangan  fungsi-fungsi fisik   dan   psikis   yang siap   merespon   stimulasi  dari   lingkungan,   untuk   meletakkan  dasar   pertama dalam   mengembangkan   kemampuan   fisik,   kognitif,   bahasa, sosial-emosional, seni,   kemandirian   agar   pertumbuhan  dan  perkembangan anak tercapai. Oleh karena   itu,   agar   pencapaian   tujuan     tersebut   dapat  optimal maka perlu ada perencanaan    Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)   di  TK   yang     meliputi bagaimana   memilih  bahan/media, sumber  belajar dan metode/ teknik  kegiatan  yang  tepat, sehingga sehingga guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang  menarik dan bermakna.

Melalui bermain anak diajak bereksplorasi, menemukan, memanfaatkan, dan mengambil kesimpulan mengenai benda-benda di sekitarnya. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip Pendidikan Anak Usia Dini, yaitu: (1) berorientasi pasa kebutuhan anak; (2) belajar melalui bermain; (3) lingkungan yang kondusif; (4) menggunakan pembelajaran terpadu; (5) mengembangkan berbagai kecakapan hidup; (6) menggunakan berbagai media edukatif dan sumber belajar; (7) dilaksanakan secara bertahap dan berulang-ulang                                             ( Fakhrudin,2010:32).   Supaya proses belajar itu menyenangkan, guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga anak didik memperoleh pengalaman nyata. Model pembelajaran dengan jenis kegiatan bervariasi serta pendekatan belajar sambil bermain, bermain seraya belajar dapat menumbuhkan motivasi, percaya diri dan tanggung jawab anak didik untuk melakukan tugas yang diberikan guru secara mandiri. Usia dini merupakan  kesempatan  emas bagi anak untuk  belajar   atau yang sering disebut dengan masa golden age. Dinamakan masa golden age karena pada saat itu dimulainya pembentukan mental dan karakter semasa kecil atau pada usia 0-5 tahun sebelum masuk sekolah pada tingkat pertama di sekolah dasar (SD). Saat inilah terjadi  proses pembentukan pertumbuhan fisik dan perkembangan potensi anak, yaitu perkembangan motorik (pembentukan keterampilan anak), mental dan panca indera, afeksi dan pengembangan daya pikir anak. Dalam usia emas itu yang dibutuhkan anak adalah stimulasi yang tepat dan menyenangkan untuk mengembangkan beragam kecerdasan atau multiple intelligence.

Pengembangan ini bertujuan agar anak mampu mengolah perolehan belajarnya, menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, mengembangkan kemampuan matematikanya, pengetahuan ruang dan waktu, kemampuan memilah dan mengelompokkan dan persiapan pengembangan kemampuan berpikir teliti. Disebutkan bahwa salah satu komponen Rencana Kegiatan Harian (RKH) adalah standar kompetensi. Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemam­puan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran (Permendiknas Nomor 41 tahun 2007, pasal 1 ayat 1). Sudah menjadi tugas guru agar peserta didik memiliki dan menguasai kemampuan seperti tersebut di atas.

Secara spesifik pada Kurikulum 2010 untuk Pendidikan Anak Usia Dini    (PAUD) untuk Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal dinyatakan tujuan pendidikan anak usia dini pada Taman Kanak-kanak dan Raudhatul Athfal  adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Untuk mencapai tujuan tersebut ruang lingkup kurikulum dipadukan dalam dua bidang pengembangan yaitu bidang pengembangan pembentukan perilaku dan bidang pengembangan kemampuan dasar.

Bidang pengembangan kemampuan dasar merupakan kegiatan yang dipersiapkan oleh guru untuk meningkatkan kemampuan dan kreativitas sesuai dengan tahap perkembangan anak, meliputi : berbahasa, kognitif, fisik / motorik dan seni. Kognitif sendiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir anak untuk dapat mengolah perolehan belajarnya, sehingga dapat menemukan bermacam-macam alternatif pemecahan masalah, membantu anak untuk mengembangkan kemampuan logika matematika dan kemampuan sains.

Kenyataan di lapangan menunjukkan dalam proses pembelajaran sains hanya mendengar ceramah dari guru saja atau membaca buku teks  yang dilanjutkan dengan pembahasan secara verbal hal ini mengakibatkan peserta didik tidak mempunyai kesempatan untuk menemukan sendiri fakta dan konsep.

Pembelajaran  sains harus melibatkan aspek pengetahuan, afektif dan psikomotor sehingga pengetahuan untuk memahami konsep diperoleh melalui proses berpikir dengan memiliki ketrampilan proses dan sikap ilmiah. Pemahaman ini bermanfaat bagi anak untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat menanggapi secara kritis perkembangan sains.

Tujuan pengembangan pembelajaran sains untuk anak  adalah agar anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapinya melalui metode sains proses, meningkatkan kemampuan sains pada anak ,  diharapkan anak memiliki sikap ilmiah dan diharapkan anak lebih berminat untuk menghayati sains.

Sains  dapat mengajak anak untuk berpikir kritis, karena dengan sains anak  tidak begitu saja menerima atau menolak sesuatu. Mereka mengamati, menganalisis dan mengevaluasi informasi yang ada sebelum menentukan keputusannya.  Dengan melalui percobaan-percobaan sains melalui ketrampilan proses, anak-anak dapat ditingkatkan kemampuan sainsnya. Dengan media observasi,  anak yang mempunyai kemampuan sains yang tinggi dapat menemukan dan mempertanyakan objek-objek yang dipahaminya. Anak usia 4-6 tahun dapat dilatih untuk mempunyai kemampuan sains . Anak dapat mulai diajarkan ketrampilan observasi dasar  seperti pengamatan.Lewat cara ini anak dapat diajak untuk memahami apa itu bunyi, udara, air, cahaya, suhu, tanah serta berbagai kayu dan logam.

Pengenalan sains untuk anak pra sekolah lebih ditekankan pada proses daripada konsep. Untuk anak prasekolah keterampilan proses sains hendaknya dilakukan secara sederhana sambil bermain. Kegiatan sains memungkinkan anak melakukan eksplorasi terhadap berbagai benda, baik benda hidup maupun benda tak hidup yang ada disekitarnya. Anak belajar menemukan gejala benda dan gejala peristiwa dari benda-benda tersebut.

Sains juga melatih anak menggunakan lima inderanya untuk mengenal berbagai gejala benda dan gejala peristiwa. Anak dilatih untuk melihat, meraba, membau, merasakan dan mendengar. Semakin banyak keterlibatan indera dalam belajar, anak semakin memahami apa yang dipelajari. Anak memperoleh pengetahuan baru hasil penginderaanya dengan berbagai benda yang ada di sekitarnya. Pengetahuan yang diperolehnya akan berguna sebagai modal berpikir lanjut. Melalui proses sains, anak dapat melakukan percobaan sederhana. Percobaan tersebut melatih anak menghubungkan sebab dan akibat dari suatu perlakuan sehingga melatih anak berpikir logis.

Kesulitan yang dialami oleh penulis adalah bagaimana cara membelajarkan kepada anak agar mampu dan dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet dengan baik.  Dari hasil penilaian hanya terdapat 20% anak yang dapat menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet dengan baik. Ini berarti masih terdapat 80% anak yang mengalami kesulitan menyebutkan benda-benda yang dapat ditarik dengan magnet dengan baik .

Merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Republik Indonesia (RI) Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, seorang guru dituntut untuk memiliki 4 kompetensi. Salah satu di antaranya adalah kompetensi Pedagogik, yang meliputi: (1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, social, cultural, emosional, dan intelektual; (2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik; (3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampu; (4) Menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik; (5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang mendidik; (6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki; (7) Berkomunikasi secara efektif, empatik,dan santun dengan peserta didik; (8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar; (9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepen-tingan pembelajaran; (10) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Pada kompetensi pedagogik  yang ke empat disebutkan bahwa guru dituntut untuk menyelenggarakan kegiatan pengembangan yang mendidik, di antaranya dengan memanfaatkan media dan sumber belajar yang sesuai dengan pendekatan bermain sambil belajar.

Berkaitan dengan  Permendiknas Nomor 16 tahun 2007  tersebut maka dalam kegiatan  belajar  mengajar perlu  menggunakan model pembelajaran yang sesuai. Kegiatan pembelajaran diarahkan untuk memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Kegiatan pembelajaran mengembangkan kemampuan untuk mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan dan mengaktualisasikan diri,karena itu, kegiatan pembelajaran perlu: (1) berpusat pada peserta didik, (2) mengembangkan kreatifitas peserta didik; (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai,  etika, estetika, logika dan kinestetika; (5) menyediakan pengalaman belajar yang beragam. (Puskur 2004 dalam Majid, 2005).

Pada usia prasekolah anak-anak memperoleh stimulus dari benda-benda untuk belajar seperti main-mainan, perabotan rumah, tanaman, binatang, dan sebagainya (Nasution,2010:195). Supaya proses belajar itu menyenangkan, guru harus menyediakan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan apa yang dipelajarinya, sehingga anak didik memperoleh pengalaman nyata. Model pembelajaran dengan jenis kegiatan bervariasi serta pendekatan belajar sambil bermain, bermain seraya belajar dapat menumbuhkan motivasi, percaya diri dan tanggung jawab anak didik untuk melakukan tugas yang diberikan guru secara mandiri. Salah satu metode pembelajaran yang  dianggap  sesuai  yaitu melalui  permainan media “Magnet dalam Seribu Panggung Boneka”  agar dapat meningkatkan kemampuan sains sederhana anak.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian tentang UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS SEDERHANA  MELALUI  MEDIA  “MAGNET DALAM SERIBU PANGGUNG BONEKA”  ANAK KELOMPOK A2 SEMESTER II DI TK/RA KUSUMA PUTRA CANDI.

1.1.Rumusan Masalah

Permasalahan yang dapat dirumuskan adalah: Bagaimana media Magnet dalam Seribu Panggung Boneka dapat meningkatkan kemampuan sains sederhana anak kelompok A2 semester II di TK/RA. Kusuma Putra Candi?

 

1.2.Hipotesa Tindakan

                                  Hipotesa dalam penelitaian tindakan kelas ini sebagai berikut: Dengan diterapkannya media Magnet dalam Seribu Panggung Boneka maka kemampuan sains sederhana anak kelompok A2 semester II TK/RA. Kusuma Putra Candi meningkat.

 

1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian

Setelah kegiatan penelitian diharapkan:

  1. Tujuan

Tujuan dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berfikir anak khususnya dalam hal pengetahuan umum dan sains sederhana  kelompok A2  TK/RA Kusuma Putra Candi .

  1. Manfaat

1)                                     Bagi pendidik

  • Meningkatkan kreatifitas guru dalam menemukan model pembelajaran dapat meningkatkan kecerdasan anak.
  • Meningkatkan peranan guru dalam mendampingi anak didik melakukan kegiatan pembelajaran.
    • Sebagai sarana pengembangan dan peningkatan profesionalisme guru.

2)                                     Bagi pembaca

  • Memberikan sumbangan pemikiran sebagai alternatif penerapan model pembelajaran dengan media magnet dalam seribu panggung boneka  dalam meningkatkan  kemampuan sains sederhana anak.

3)             Bagi Kepala Sekolah

  • Sebagai literasi untuk mengembangkan kompetensi tenaga pendidik agar lebih profesional.
  • Sebagai tambahan wawasan agar bisa disampaikan /diinformasikan  pada guru

 

1.4.Ruang Lingkup Keterbatasan

 

Lingkup penelitian yang menjadi batasan materi dalam penelitian adalah bagaimana cara membelajarkan kepada anak agar anak mampu dan dapat mengkreasikan sesuatu sesuai dengan idenya sendiri terutama dalam hal percobaan dengan magnet dengan menggunakan media” Magnet dalam Seribu Panggung boneka” TK/RA. Kusuma Putra Kelompok A2 semester II tahun pelajaran 2012-2013.

Untuk Bab II silakan buka artikel PTK yang Bab II